Translate

Rabu, 09 Agustus 2017

Bukit Mbanyon

Negri Atas Awan sebutan yang hits dari bukit yang terletak di kecamatan Gandusari.Lebih tepatnya timur pasar Gandusari ini konon menyuguhkan pemandangan alam yang indah.
Karena saya juga tidak ingin dikatakan orang yang kurang piknik maka mancal ke bukit Mbanyon ini saya jadikan daftar destinasi pertama,padahal bukit ini sudah mulai populer 2-3 tahun belakangan ini.Dasar ndeso......

Minggu pagi saya mengajak temanku Freda untuk ikut bergabung dengan group TRECC  untuk mancal bareng ke bukit  mbanyon ini.
Karena titik kumpul sedikit jauh terpaksa kami meloading sepeda dari rumah,jaga2 kalau badan kaget karena jarang jarang kami bersepeda.
Terakhir saya ingat bersepedaan ke
Jangkung itu sungguh terasa meletihkan.

Sesampainya tiba pada titik temu dirumah sesama rekan TRECC,sepeda pun kami rakit kembali.
Saat memasang wheelset depan saya kehilangan mur qr depan,untung setelah dicari2 ternyata nyangkut di bike carier.
Tapi saya harus merelakan pir adaptornya hilang tidak ketemu.
Dan insiden ini murni keteledoran saya karena lupa mengencangkannya sebelum diloading.
Sedikit renungan untuk pengalaman pribadi sore kemarin(luar topik),ceroboh itu memang membuahkan hasil atau akibat yang tidak kita inginkan.Akan tetapi ini bisa menjadikan sebagai sugesti bahkan cambuk untuk menjadi lebih baik,meskipun imbas dari kecerobohan kemarin masih saya rasakan kejengkelannya.hhhhhe

Setelah semua berkumpul kami berangkat dari desa Jatiprahu ke Kecamatan Gandusari.
Start awal masih sama dengan jalur ke jurug Terbang,tanjakan Kedegkan harus kami lalui dulu.
Kali ini saya lebih mudah melaluinya tidak seperti mancal kemarin yang terasa ngos-ngosan,walaupun tetap jadi juara ekor dari rekan2 saya.
Setelah bertemu dengan pertigaan Woncoyo kami ambil kekiri,disini saya ditemani biker kawakan dari Trenggalek.
Pak Murdi namanya beliau juga mengajak saudaranya yang sedikit lebih tua,nah inilah yang menjadi rasa heran dan takjub saya.
Meski umur sudah bisa dikatakan senja tapi stamina dan fisik jauh melampau kami yang masih muda.
Terbukti ketika menanjak di Kedegkan beliau dengan mudah menyalip beberapa rekan dengan santai,padahal kami berada dibarisan depan.

Beberapa puluh meter dari pertigaan wonocoyo kami memotong jalan keselatan,memasuki area kebun tebu dan pemukiman warga,persawahan,pemukiman lagi,jembatan,pemukiman lagi,persawahan lagi lupa saya menjelaskan detail jalur menuju ke bukitnya,ditambah lagi saya juga lupa mengaktifkan gps.
Tapi yang jelas posisi bukit mbanyon bisa dilihat di googlemap hhhhe.

Awal sampai dikaki bukit saya sudah terpesona dengan pemandangan alamnya,padang rumput dengan sedikit pohon ditambah hiasan alami batuan2 besar yang menyembul dari tanah.
Imajinasi saya langsung membayangkan betapa indahnya hasil buruan foto yang bakal saya dapatkan.
Tapi apalah daya bayangan pun lenyap tertepa sinar kenyataan,,,wuft macam sang pujangga saja.
Jalanan panjang dari beton yang menanjak sukses membuat saya kehilangan stamina,jangankan mau berfoto mengambil nafas saja saya sudah kesulitan.
Kepala pusing dan seluruh menu sarapan pagi mau keluar rasanya.
Beruntung empat rekan saya masih mau menemani penderitaan ini,heehehe.
Saya kira sebagian dari mereka juga merasakan hal yang sama meski ditutupi dengan guyonan2 ringan.
Ini sedikit foto yang masih dapat saya ambil setelah istirahat hampir setengah jam.






Rupanya pengunjung disini bukan kami saja,banyak muda mudi yang saya jumpai berlawan arah dengan kami.
Kemungkinan mereka baru saja berburu suasana sunrise dari atas bukit.
Konon disini spot bagus untuk menikmati momen ini.
Dengan sisa2 tenaga yang saya punya.
Pendakian berlanjut meskipun pelan pelan...lho kok pendakian sepedanya kemana?dituntun,karena saya lebih sering menuntun daripada menaikinya hehehe.
Selang beberapa puluh meter rekan saya Nizar menemukan kelapa muda yang ditinggal pemiliknya,bak sang pengelana yang bertemu dengan kekasihnya.
Tanpa babibu langsung kami ekskusi dengan sabit milik petani lokal.
Anda pernah lihat iklan minuman bersoda warna hijau itu,mungkin inilah ekspresi kami berdua hehehehe.

Bersepeda bersama sama itu memang menguntungkan,buktinya rekan kami mas Auni menyusul kami dengan sepeda motor guna membantu kami mengusung sepeda ke puncak.
Satu dari kami berempat akhirnya terpaksa ikut dievakuasi...mirip korban bencana alam saja hehehe.
Tak berapa lama kemudian kami sampai di puncak mbanyon,meski disambut dengan gelak tawa dan candaan hangat dari rekan rekan kami.
Dan inilah penampakan dari puncak bukit Mbanyon.

Perjuangan ke puncak bukit
sepeda pun ikutan lelah

Puncak Mbanyon

Nyantai di warung
Puas bersantai dan diskusi tentang race event di kota Kediri,kami memutuskan pulang.
Rute perjalanan pulang kami berbeda dari rute pendakian.
Setelah menuruni jalan beton beberapa puluh meter kami membelokkan sepeda kekiri melewati jalan tanah yang hanya cukup untuk satu sepeda motor.
Rutenya cukup bagus,lumayan untuk mengasah skill.
Tapi apadaya badan saya sudah terasa lemas tidak terlalu berambisi untuk melakukan manuver atau sedikit menikmati jumping ringan ala rider xc trail amatiran.

Track yang bagus
Mungkin lain waktu saya akan mengeksplor tempat ini dengan lebih dalam persiapan dan bekal.
Saran saya kalau ketempat ini usahakan sepagi mungkin atau sore hari jika ingin mendapat momen2 yang indah.
Oh ya khusus untuk mas Hasan semoga tulisan yang tidak layak redaksi ini bisa mengobati rasa penasaran karena tidak bisa ikut gabung,mungkin lain waktu kita bisa duet bareng ke tempat ini.

Mas Nizar terima kasih jamuannya

Horee... pak Trio sampai finish

Senin, 31 Juli 2017

Dusun Njangkung

Sudah lama saya ingin mengeksplor tempat ini.Karena keterbatasan waktu baru saat ini saya bisa melepaskan keingintahuan yang sudah hampir berkarat.
Meskipun cuma dapat waktu setelah tiba sholat ashar saya nekat mengayuh sepeda menuju lokasi.


Sedikit tergesa gesa kurasa,sore hari

Sabtu, 27 Mei 2017

Jurug Terbang

Kumpul bersama kawan2 dari komunitas TRECC memang harus siap fisik dan mental.
Alhasil saya harus keteteran mengikuti kayuhan mereka.
Rute yang dipilih pun event funbike di kecamatan Kampak dalam rangka turut andil memperingati HARDIKNAS agar semangat nasionalisme semakin terpupuk...merdekaaaa !!!!.
Meskipun untuk sampai ke tempat tujuan harus melewati tiga kecamatan tidak mengurangi semangat kami mengayuh sepeda,ditambah aroma jersey baru kami yang menambah tingkat ketampanan kami hahahaha.
Start pukul 05.20 dari rumah pak trio menuju arah gunung Kedegan lumayan buat pemanasan,meskipun banyak cerita motor yang sering kehabisan tenaga saat menanjak disini alhamdulillah mesin yang berbahan bakar kopi dan nasi pecel ini masih sanggup melewati walau harus dengan muka merah merekah.
Sekitar 3km dari tanjakan kami sudah dinanti dua orang kawan dari Gandusari(nizar),karena mereka yang mengerti seluk beluk daerah disekitar sini kami minta mereka menjadi pemandu menuju lokasi.
Lumayan jauh juga jarak yang kami tempuh.Karena gowes kami main keroyokan alias rame2 yang bertolak belakang dengan  latar belakang saya maka terasa lebih ringan sampai sampai pedal mas nizar lepas karena saking semangatnya.

Lokasi funbike